Anda memasuki Blognya Adinevva silahkan membaca dan berbagi Ilmu

Ibote.net


ibote.net

Me @nD Ibote..

Me @nD Ibote..
Adinevva

Silahkan berbagi ilmu

Minggu, 13 Juni 2010

Artikel Islam - Berpikir..

BERFIKIR

Banyak  yang  beranggapan  bahwa  untuk  "berpikir  secara  mendalam",
seseorang  perlu  memegang  kepala dengan kedua telapak tangannya, dan
menyendiri  di  sebuah  ruangan  yang  sunyi,  jauh dari keramaian dan
segala  urusan  yang  ada.  Sungguh, mereka telah menganggap "berpikir
secara  mendalam"  sebagai  sesuatu  yang memberatkan dan menyusahkan.
Mereka  berkesimpulan  bahwa  pekerjaan  ini  hanyalah  untuk kalangan
"filosof".

Padahal,   sebagaimana   telah  disebutkan  dalam  pendahuluan,  Allah
mewajibkan manusia untuk berpikir secara mendalam atau merenung. Allah
berfirman  bahwa  Al-Qur'an diturunkan kepada manusia untuk dipikirkan
atau direnungkan:

"Ini  adalah  sebuah  kitab  yang Kami turunkan kepadamu, penuh dengan
berkah  supaya  mereka  memperhatikan  (merenungkan)  ayat-ayatnya dan
supaya  mendapat  pelajaran  orang-orang  yang mempunyai pikiran" (QS.
Shaad, 38: 29).

Yang  ditekankan  di sini adalah bahwa setiap orang hendaknya berusaha
secara ikhlas sekuat tenaga dalam meningkatkan kemampuan dan kedalaman
berpikir.
Sebaliknya,   orang-orang  yang  tidak  mau  berusaha  untuk  berpikir
mendalam  akan  terus-menerus  hidup dalam kelalaian yang sangat. Kata
kelalaian mengandung arti
"ketidakpedulian   (tetapi   bukan   melupakan),  meninggalkan,  dalam
kekeliruan,  tidak menghiraukan, dalam kecerobohan". Kelalaian manusia
yang  tidak berpikir adalah akibat melupakan atau secara sengaja tidak
menghiraukan  tujuan  penciptaan  diri  mereka  serta kebenaran ajaran
agama.  Ini  adalah  jalan  hidup  yang  sangat  berbahaya  yang dapat
menghantarkan  seseorang  ke  neraka.  Berkenaan  dengan hal tersebut,
Allah  memperingatkan  manusia  agar  tidak  termasuk  dalam  golongan
orang-orang yang lalai:

"Dan  sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan
rasa  takut,  dan  dengan  tidak  mengeraskan suara, di waktu pagi dan
petang,  dan  janganlah  kamu  termasuk  orang-orang yang lalai." (QS.
Al-A'raaf, 7: 205)

"Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, (yaitu) ketika
segala  perkara  telah  diputus. Dan mereka dalam kelalaian dan mereka
tidak (pula) beriman." (QS. Maryam, 19: 39)

Dalam Al-Qur'an, Allah menyebutkan tentang mereka yang berpikir secara
sadar,  kemudian  merenung  dan  pada akhirnya sampai kepada kebenaran
yang  menjadikan  mereka  takut  kepada  Allah. Sebaliknya, Allah juga
menyatakan  bahwa  orang-orang  yang  mengikuti  para pendahulu mereka
secara  taklid  buta  tanpa  berpikir, ataupun hanya sekedar mengikuti
kebiasaan  yang  ada,  berada  dalam  kekeliruan. Ketika ditanya, para
pengekor  yang  tidak mau berpikir tersebut akan menjawab bahwa mereka
adalah  orang-orang  yang  menjalankan agama dan beriman kepada Allah.
Tetapi  karena  tidak  berpikir,  mereka  sekedar melakukan ibadah dan
aktifitas  hidup  tanpa  disertai  rasa takut kepada Allah. Mentalitas
golongan ini sebagaimana digambarkan dalam Al-Qur'an:

Katakanlah:  "Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya,
jika kamu mengetahui?"

Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "Maka apakah kamu
tidak ingat?"
Katakanlah:  "Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya
'Arsy yang besar?"
Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "Maka apakah kamu
tidak bertakwa?"
Katakanlah:  "Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala
sesuatu  sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi
dari (adzab)-Nya, jika kamu mengetahui?"
Mereka   akan   menjawab:   "Kepunyaan   Allah."  Katakanlah:  "(Kalau
demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu (disihir)?"

"Sebenarnya   Kami   telah   membawa   kebenaran  kepada  mereka,  dan
sesungguhnya  mereka  benar-benar  orang-orang  yang  berdusta."  (QS.
Al-Mu'minuun, 23: 84-90)

Berpikir dapat membebaskan seseorang dari belenggu sihir
Dalam  ayat  di atas, Allah bertanya kepada manusia, "…maka dari jalan
manakah  kamu  ditipu  (disihir)?.  Kata disihir atau tersihir di sini
mempunyai  makna  kelumpuhan  mental  atau akal yang menguasai manusia
secara  menyeluruh.  Akal  yang tidak digunakan untuk berpikir berarti
bahwa   akal   tersebut   telah  lumpuh,  penglihatan  menjadi  kabur,
berperilaku  sebagaimana  seseorang  yang  tidak  melihat kenyataan di
depan  matanya,  sarana yang dimiliki untuk membedakan yang benar dari
yang  salah  menjadi  lemah.  Ia tidak mampu memahami sebuah kebenaran
yang  sederhana  sekalipun.  Ia tidak dapat membangkitkan kesadarannya
untuk   memahami   peristiwa-peristiwa  luar  biasa  yang  terjadi  di
sekitarnya.   Ia   tidak   mampu   melihat  bagian-bagian  rumit  dari
peristiwa-peristiwa  yang  ada. Apa yang menyebabkan masyarakat secara
keseluruhan  tenggelam  dalam  kehidupan yang melalaikan selama ribuan
tahun  serta  menjauhkan diri dari berpikir sehingga seolah-olah telah
menjadi sebuah tradisi adalah kelumpuhan akal ini.

Pengaruh   sihir  yang  bersifat  kolektif  tersebut  dapat  dikiaskan
sebagaimana berikut:

Dibawah permukaan bumi terdapat sebuah lapisan mendidih yang dinamakan
magma,  padahal  kerak  bumi sangatlah tipis. Tebal lapisan kerak bumi
dibandingkan  keseluruhan  bumi  adalah  sebagaimana  tebal kulit apel
dibandingkan  buah  apel  itu  sendiri.  Ini  berarti bahwa magma yang
membara  tersebut  demikian dekatnya dengan kita, dibawah telapak kaki
kita!

Setiap orang mengetahui bahwa di bawah permukaan bumi ada lapisan yang
mendidih  dengan  suhu yang sangat panas, tetapi manusia tidak terlalu
memikirkannya.  Hal  ini  dikarenakan  para  orang tua, sanak saudara,
kerabat,  teman,  tetangga, penulis artikel di koran yang mereka baca,
produser acara-acara TV dan professor mereka di universitas tidak juga
memikirkannya.

Ijinkanlah  kami  mengajak anda berpikir sebentar tentang masalah ini.
Anggaplah  seseorang  yang  telah  kehilangan  ingatan  berusaha untuk
mengenal  sekelilingnya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada
setiap  orang  di sekitarnya. Pertama-tama ia menanyakan tempat dimana
ia  berada.  Apakah  kira-kira  yang  akan  muncul di benaknya apabila
diberitahukan  bahwa  di bawah tempat dia berdiri terdapat sebuah bola
api  mendidih  yang dapat memancar dan berhamburan dari permukaan bumi
pada  saat  terjadi  gempa  yang  hebat atau gunung meletus? Mari kita
berbicara  lebih  jauh  dan anggaplah orang ini telah diberitahu bahwa
bumi  tempat  ia  berada  hanyalah  sebuah planet kecil yang mengapung
dalam  ruang  yang  sangat  luas,  gelap  dan hampa yang disebut ruang
angkasa.  Ruang  angkasa  ini memiliki potensi bahaya yang lebih besar
dibandingkan  materi  bumi  tersebut,  misalnya:  meteor-meteor dengan
berat berton-ton yang bergerak dengan leluasa di dalamnya. Bukan tidak
mungkin  meteor-meteor  tersebut  bergerak  ke  arah bumi dan kemudian
menabraknya.

Mustahil orang ini mampu untuk tidak berpikir sedetikpun ketika berada
di tempat yang penuh dengan bahaya yang setiap saat mengancam jiwanya.
Ia  pun akan berpikir pula bagaimana mungkin manusia dapat hidup dalam
sebuah  planet  yang  sebenarnya  senantiasa  berada  di ujung tanduk,
sangat  rapuh  dan  membahayakan nyawanya. Ia lalu sadar bahwa kondisi
ini  hanya  terjadi  karena  adanya  sebuah sistim yang sempurna tanpa
cacat  sedikitpun. Kendatipun bumi, tempat ia tinggal, memiliki bahaya
yang  luar  biasa besarnya, namun padanya terdapat sistim keseimbangan
yang  sangat  akurat  yang  mampu  mencegah bahaya tersebut agar tidak
menimpa manusia. Seseorang yang menyadari hal ini, memahami bahwa bumi
dan  segala  makhluk  di  atasnya dapat melangsungkan kehidupan dengan
selamat   hanya   dengan   kehendak   Allah,  disebabkan  oleh  adanya
keseimbangan alam yang sempurna dan tanpa cacat yang diciptakan-Nya.

Contoh  di  atas  hanyalah satu diantara jutaan, atau bahkan trilyunan
contoh-contoh  yang  hendaknya  direnungkan oleh manusia. Di bawah ini
satu  lagi contoh yang mudah-mudahan membantu dalam memahami bagaimana
"kondisi   lalai"  dapat  mempengaruhi  sarana  berpikir  manusia  dan
melumpuhkan kemampuan akalnya.

Manusia  mengetahui  bahwa  kehidupan  di  dunia  berlalu dan berakhir
sangat  cepat.  Anehnya, masih saja mereka bertingkah laku seolah-olah
mereka   tidak   akan  pernah  meninggalkan  dunia.  Mereka  melakukan
pekerjaan seakan-akan di dunia tidak ada kematian. Sungguh, ini adalah
sebuah bentuk sihir atau mantra yang terwariskan secara turun-temurun.
Keadaan  ini  berpengaruh sedemikian besarnya sehingga ketika ada yang
berbicara  tentang  kematian,  orang-orang  dengan segera menghentikan
topik   tersebut   karena  takut  kehilangan  sihir  yang  selama  ini
membelenggu  mereka  dan  tidak  berani menghadapi kenyataan tersebut.
Orang  yang  mengabiskan  seluruh  hidupnya  untuk  membeli rumah yang
bagus,  penginapan  musim  panas,  mobil  dan  kemudian  menyekolahkan
anak-anak  mereka  ke  sekolah  yang bagus, tidak ingin berpikir bahwa
pada  suatu  hari mereka akan mati dan tidak akan dapat membawa mobil,
rumah, ataupun anak-anak beserta mereka. Akibatnya, daripada melakukan
sesuatu untuk kehidupan yang hakiki setelah mati, mereka memilih untuk
tidak berpikir tentang kematian.

Namun,  cepat  atau  lambat setiap manusia pasti akan menemui ajalnya.
Setelah  itu,  percaya  atau  tidak,  setiap orang akan memulai sebuah
kehidupan   yang   kekal.  Apakah  kehidupannya  yang  abadi  tersebut
berlangsung  di  surga  atau di neraka, tergantung dari amal perbuatan
selama  hidupnya  yang  singkat di dunia. Karena hal ini adalah sebuah
kebenaran  yang  pasti  akan terjadi, maka satu-satunya alasan mengapa
manusia  bertingkah  laku  seolah-olah mati itu tidak ada adalah sihir
yang  telah  menutup atau membelenggu mereka akibat tidak berpikir dan
merenung.

Orang-orang yang tidak dapat membebaskan diri mereka dari sihir dengan
cara  berpikir, yang mengakibatkan mereka berada dalam kelalaian, akan
melihat  kebenaran  dengan  mata  kepala mereka sendiri setelah mereka
mati, sebagaimana yang diberitakan Allah kepada kita dalam Al-Qur'an :

"Sesungguhnya  kamu  berada  dalam  keadaan lalai dari (hal) ini, maka
Kami   singkapkan   daripadamu  tutup  (yang  menutupi)  matamu,  maka
penglihatanmu pada hari itu amat tajam." (QS. Qaaf, 50: 22)

Dalam  ayat  di  atas penglihatan seseorang menjadi kabur akibat tidak
mau  berpikir,  akan  tetapi  penglihatannya  menjadi tajam setelah ia
dibangkitkan dari alam kubur dan ketika mempertanggung jawabkan segala
amal perbuatannya di akhirat.

Perlu  digaris  bawahi  bahwa  manusia mungkin saja membiarkan dirinya
secara   sengaja   untuk   dibelenggu   oleh  sihir  tersebut.  Mereka
beranggapan  bahwa  dengan  melakukan hal ini mereka akan hidup dengan
tentram.  Syukurlah  bahwa  ternyata sangat mudah bagi seseorang untuk
merubah kondisi yang demikian serta melenyapkan kelumpuhan mental atau
akalnya,  sehingga  ia  dapat  hidup  dalam kesadaran untuk mengetahui
kenyataan. Allah telah memberikan jalan keluar kepada manusia; manusia
yang  merenung  dan  berpikir akan mampu melepaskan diri dari belenggu
sihir  pada  saat mereka masih di dunia. Selanjutnya, ia akan memahami
tujuan  dan  makna  yang hakiki dari segala peristiwa yang ada. Ia pun
akan  mampu  memahami  kebijaksanaan  dari  apapun yang Allah ciptakan
setiap saat.

Seseorang dapat berpikir kapanpun dan dimanapun
Berpikir  tidaklah  memerlukan  waktu,  tempat ataupun kondisi khusus.
Seseorang  dapat  berpikir sambil berjalan di jalan raya, ketika pergi
ke  kantor,  mengemudi  mobil,  bekerja  di depan komputer, menghadiri
pertemuan  dengan  rekan-rekan, melihat TV ataupun ketika sedang makan
siang.
Misalnya:  di  saat  sedang mengemudi mobil, seseorang melihat ratusan
orang  berada  di  luar. Ketika menyaksikan mereka, ia terdorong untuk
berpikir   tentang   berbagai  macam  hal.  Dalam  benaknya  tergambar
penampilan  fisik  dari  ratusan  orang yang sedang disaksikannya yang
sama  sekali  berbeda satu sama lain. Tak satupun diantara mereka yang
mirip  dengan  yang  lain. Sungguh menakjubkan: kendatipun orang-orang
ini  memiliki  anggota  tubuh  yang sama, misalnya sama-sama mempunyai
mata,  alis, bulu mata, tangan, lengan, kaki, mulut dan hidung; tetapi
mereka terlihat sangat berbeda satu sama lain. Ketika berpikir sedikit
mendalam, ia akan teringat bahwa:

Allah telah menciptakan bilyunan manusia selama ribuan tahun, semuanya
berbeda  satu dengan yang lain. Ini adalah bukti nyata tentang ke Maha
Perkasaan dan ke Maha Besaran Allah.

Menyaksikan manusia yang sedang lalu lalang dan bergegas menuju tempat
tujuan  mereka  masing-masing,  dapat  memunculkan  beragam pikiran di
benak  seseorang. Ketika pertama kali memandang, muncul di pikirannya:
manusia  yang jumlahnya banyak ini terdiri atas individu-individu yang
khas  dan unik. Tiap individu memiliki dunia, keinginan, rencana, cara
hidup,  hal-hal  yang membuatnya bahagia atau sedih, serta perasaannya
sendiri.  Secara  umum,  setiap  manusia  dilahirkan, tumbuh besar dan
dewasa,  mendapatkan  pendidikan, mencari pekerjaan, bekerja, menikah,
mempunyai  anak,  menyekolahkan  dan  menikahkan anak-anaknya, menjadi
tua,  menjadi  nenek  atau  kakek  dan  pada akhirnya meninggal dunia.
Dilihat  dari  sudut  pandang  ini,  ternyata  perjalanan  hidup semua
manusia  tidaklah  jauh berbeda; tidak terlalu penting apakah ia hidup
di  perkampungan  di  kota Istanbul atau di kota besar seperti Mexico,
tidak  ada bedanya sedikitpun. Semua orang suatu saat pasti akan mati,
seratus  tahun lagi mungkin tak satupun dari orang-orang tersebut yang
akan masih hidup. Menyadari kenyataan ini, seseorang akan berpikir dan
bertanya  kepada  dirinya  sendiri:  "Jika  kita semua suatu hari akan
mati,  lalu  apakah  gerangan yang menyebabkan manusia bertingkah laku
seakan-akan  mereka  tak akan pernah meninggalkan dunia ini? Seseorang
yang  akan  mati sudah sepatutnya beramal secara sungguh-sungguh untuk
kehidupannya   setelah  mati;  tetapi  mengapa  hampir  semua  manusia
berkelakuan   seolah-olah  hidup  mereka  di  dunia  tak  akan  pernah
berakhir?"

Orang  yang  memikirkan  hal-hal  semacam ini lah yang dinamakan orang
yang  berpikir  dan  mencapai kesimpulan yang sangat bermakna dari apa
yang ia pikirkan.

Sebagian besar manusia tidak berpikir tentang masalah kematian dan apa
yang  terjadi  setelahnya. Ketika mendadak ditanya,"Apakah yang sedang
anda  pikirkan  saat  ini?",  maka  akan  terlihat bahwa mereka sedang
memikirkan   segala   sesuatu   yang   sebenarnya  tidak  perlu  untuk
dipikirkan,  sehingga tidak akan banyak manfaatnya bagi mereka. Namun,
seseorang bisa juga "berpikir" hal-hal yang "bermakna", "penuh hikmah"
dan  "penting"  setiap  saat  semenjak  bangun tidur hingga kembali ke
tempat tidur, dan mengambil pelajaran ataupun kesimpulan dari apa yang
dipikirkannya.

Dalam  Al-Qur'an,  Allah  menyatakan  bahwa  orang-orang  yang beriman
memikirkan  dan  merenungkan  secara mendalam segala kejadian yang ada
dan mengambil pelajaran yang berguna dari apa yang mereka pikirkan.

"Sesungguhnya  dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya
malam  dan  siang  terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,
(yaitu)  orang-orang  yang  mengingat  Allah sambil berdiri atau duduk
atau  dalam  keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan
langit  dan  bumi  (seraya  berkata):  "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau
menciptakan  ini  dengan  sia-sia,  Maha Suci Engkau, maka peliharalah
kami dari siksa neraka." (QS. Aali 'Imraan, 3: 190-191).

Ayat  di  atas  menyatakan  bahwa oleh karena orang-orang yang beriman
adalah  mereka  yang  berpikir, maka mereka mampu melihat hal-hal yang
menakjubkan  dari ciptaan Allah dan mengagungkan Kebesaran, Ilmu serta
Kebijaksanaan Allah.

Berpikir dengan ikhlas sambil menghadapkan diri kepada Allah
Agar   sebuah   perenungan   menghasilkan   manfaat   dan   seterusnya
menghantarkan  kepada  sebuah  kesimpulan  yang  benar, maka seseorang
harus  berpikir positif. Misalnya: seseorang melihat orang lain dengan
penampilan  fisik yang lebih baik dari dirinya. Ia lalu merasa dirinya
rendah  karena  kekurangan  yang ada pada fisiknya dibandingkan dengan
orang  tersebut yang tampak lebih rupawan. Atau ia merasa iri terhadap
orang  tersebut. Ini adalah pikiran yang tidak dikehendaki Allah. Jika
ridha Allah yang dicari, maka seharusnya ia menganggap bagusnya bentuk
rupa  orang  yang  ia  lihat  sebagai  wujud  dari  ciptaan Allah yang
sempurna.  Dengan  melihat orang yang rupawan sebagai sebuah keindahan
yang  Allah  ciptakan  akan  memberikannya  kepuasan. Ia berdoa kepada
Allah  agar menambah keindahan orang tersebut di akhirat. Sedang untuk
dirinya   sendiri,  ia  juga  meminta  kepada  Allah  agar  dikaruniai
keindahan   yang  hakiki  dan  abadi  di  akhirat  kelak.  Hal  serupa
seringkali  dialami  oleh  seorang  hamba yang sedang diuji oleh Allah
untuk  mengetahui  apakah dalam ujian tersebut ia menunjukkan perilaku
serta pola pikir yang baik yang diridhai Allah atau sebaliknya.

Keberhasilan  dalam  menempuh  ujian  tersebut,  yakni dalam melakukan
perenungan  ataupun  proses  berpikir yang mendatangkan kebahagiaan di
akhirat,  masih  ditentukan  oleh kemauannya dalam mengambil pelajaran
atau  peringatan  dari  apa  yang  ia renungkan. Karena itu, sangatlah
ditekankan  disini  bahwa  seseorang  hendaknya selalu berpikir secara
ikhlas  sambil  menghadapkan  diri kepada Allah. Allah berfirman dalam
Al-Qur'an :

"Dia  lah yang memperlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan)-Nya dan
menurunkan  untukmu rezki dari langit. Dan tiadalah mendapat pelajaran
kecuali  orang-orang  yang  kembali (kepada Allah)." (QS. Ghaafir, 40:
13).



0 komentar:

Posting Komentar

 

© Street Art Copyright by ADINEVVA Blog.. | Template by ADINEVVA | Blog Trick at adinevva